Profile

WELCOME

Sign In

Consultant - Reading - Traveling - Jogging - Jazz - Classical - The Association For Advancement Of Small Business Surabaya - Indonesia

Selalu ingin tahu sesuatu yang baru, teratur (tapi nggak streng banget), suka mengamati keindahan alam yang sederhana sekalipun (bersyukur..), cukup menikmati dan bahagia dengan hidupku..tapi, kadang-kadang naif juga (haha...)

The City of Perth
Surat dari Sahabat 1, 2, 3
Cerita tentang Jerman 1, 2, 3
Jalan² ke Ranah Minang 1, 2

Early's Photos

early_rahmawati@yahoo.co.uk

Tagboard

   

Calendar

<< November 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30


My Friends

The Secret 2 Success

Kampung Donat

50 Kota

Cimbuak

Agustin

TGO

OSS

PUPUK

Lulu'

Rini

Gita

Mita

Hadik

Alex

Pito

Fanabis

Endiks

Hedi

Bangsari

Indah

Kesya

GreenRoom

Anang

Vivink

Erny

Zumux

Bahtiar


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:
rss feed


Credits

Layout: Marianne
Picture: Stock.XCHNG
BLOGDRIVE
TEMPLATES
Blogdrive
Thursday, November 11, 2004
Sepenggal Cerita dan Kenangan di Jerman (2)


Hidup yang sungguh-sungguh dan peduli bagaikan bermain puzzle. Ada pencarian, perakitan, sekaligus penemuan makna. Rasa puas bagaikan angin pagi yang menggelembung datang memasuki sukma ketika pelbagai kepingan puzzle kehidupan itu sebagian dapat ditata dan menghadirkan makna (Hernowo – Suara dari Dalam, Merayakan Kemenangan Intelektual Yudi Latif) 

Kepergian saya untuk menghadiri seminar tentang liberalisme di Jerman atas undangan dari Frederick Naumann Stiftung (FNSt) sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan politik khususnya liberal, memang telah melalui proses beberapa bulan sebelumnya. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan topik ini..tapi entah kenapa setelah browsing beberapa kali di internet, saya menemukan hal-hal menarik yang mendorong saya ingin tahu lebih lanjut tentang paham liberalisme..yang di Indonesia masih banyak dihujat oleh banyak kalangan. Berbekal beberapa potongan informasi itulah saya beranikan diri untuk mendaftarkan diri mengikuti seleksi menjadi peserta seminar tersebut. Setelah melalui tahap wawancara, dan atas otoritas panitia seminar di Jerman, saya dinyatakan lolos untuk berangkat ke Jerman..hanya tiga minggu menjelang pelaksanaan seminar ! Tentu saja saya agak panik mengingat masih banyaknya pekerjaan yang harus saya selesaikan, apalagi pelaksaannya pas bulan puasa… Tapi, syukurlah..berbekal banyak informasi dan bantuan dari Mbak Irina dari FNSt yang menguruskan dan administrasi dan visa, saya hampir-hampir tidak mengalami hambatan yang berarti dalam persiapan keberangkatan ke Jerman. Gimana nggak ? Ternyata berangkat ke Uni Eropa sangat mudah kalau ada sponsornya, ngisi aplikasi visa cuma selembar bolak balik dan seminggu jadi !! Bandingkan saat saya mesti ngisi berlembar-lembar kertas aplikasi visa untuk Australia saat mau berangkat short course dua bulan dan periksa kesehatan juga…Jadi, meski sama-sama berangkat karena ada sponsornya, masing-masing negara mempunyai kebijakan yang berbeda… 

Menyambung cerita bagian <pertama> ….(baca edisi web-blog saya beberapa bulan lalu ya…:) 

Sesampai di Koln..ternyata banyak kejadian lucu, selain mengetahui ternyata pria keren yang duduk di sebelah saya di pesawat Luftansa ternyata adalah Manuel dari Guatemala (hehe..wajahnya mirip Tom Cruise lho…malah lebih cakep..J ), juga beberapa orang yang saya lihat di ruang tunggu Bandara Frankfurt ternyata juga peserta seminar yang sama..kami tahu saat dijemput panitia di Bandara Konrad Adenaur Koln. Pertama-tama saya kenalan dengan Leon (Afsel) yang melihat saya mondar-mandir mencari panitia penjemput, dia sendiri juga lagi bingung…dan akhirnya kami bertemu juga dengan panitia penjemput. Kemudian saat di mobil kami bertemu dengan Anna Whitcroft, penerjemah Rusia - Inggris yang dijemput setelah perjalanannya dari London, trus bertemu dengan Ahmed (Mesir) dan Aruna (Nepal), dan kemudian baru Manuel…hehe, saat kami sudah di mobil, Manuel kelihatan masih bolak-balik di bagian pengaduan bagasi karena tasnya hilang (emang kegedean sih dibawa ke kabin, soalnya pesawat kami kan Foker…jadi oleh pramugarinya diturunkan ke bagasi, sesampai di Koln ternyata tasnya nggak ada !). Saat itu saya sempat berpikir, jangan-jangan dia peserta juga…ternyata dugaan saya benar. Baru deh setelah dia masuk mobil dan bertemu saya, kami berkenalan dan tertawa bersama mengingat saling 'jaim' saat di pesawat…:) tasnya emang raib entah kemana, tapi kemudian diantar sorenya ke Gummersbach. 

Menikmati perjalanan siang itu ke dari Koln menuju Gummersbach, pemandangan di sepanjang jalan sungguh cantik. Dengan daun-daun berwarna-warni : merah, coklat, kuning, sesekali ada hijau..sisa-sisa musim gugur memang masih ada di awal November itu. Saat itu saya pun sempat mengirim sms kepada Mas Hendra (hore….kartu Halo bisa dipakai di Jerman meski sekali sms mahal banget, Rp 2.500,- !! ). Seperti halnya saya, Mas Hendra adalah seorang Mayist (penggemar karya Karl May, novelis Jerman terkenal itu…). Dia bekerja di Radio DW di Bonn. Mas Hendra mengucapkan selamat datang ke Jerman..mempersilakan saya untuk menikmati alam Jerman, khususnya Gummersbach, kota kecil namun cantik. Wah, saya jadi tak sabar ingin segera sampai di Gummersbach ! Sayang sekali..saya ternyata tidak sempat bertemu muka dengan Mas Hendra ini..kami cuma saling kirim sms aja sampai sekarang, hehe…. 

Jalan-jalan yang kami lalui sungguh bersih dan teratur…beda banget dengan suasana di Indonesia, dan akhirnya setelah sekitar 30 menit perjalanan sampailah kami di Gummersbach..langsung menuju Theodor-Heuss Academy tempat seminar dan sekaligus asrama kami selama kurang lebih dua minggu. Bangunannya dari luar cenderung minimalis, dan mungkin memang inilah yang menjadi ciri khas bangunan modern Jerman, ada banyak celah dan ruang-ruang sempit dengan berbagai model anak tangga yang ditata sedemikian cantiknya dan tentu saja menjadi ruang-ruang yang berguna… mengingatkan saya pada gaya bangunan PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) di Trawas Mojokerto yang konon arsiteknya juga orang Jerman.


Theodor Heuss Academy Gummersbach

 
Begitu mendapatkan kunci kamar, saya dan teman-teman langsung menuju kamar masing-masing..saya kebagian salah satu kamar di lantai lima. Dan begitu membuka jendela….aduh, pemandangan cantik kota Gummersbach langsung terlihat di siang yang cerah itu. Saya pun tidak menyia-nyiakan momen tersebut dengan memotretnya !! Setelah membersihkan diri dan menata bawaan saya di almari saya langsung tidur nyenyak, sungguh luar biasa nikmatnya…saya bisa istirahat setelah hampir 20 jam total perjalanan dimana saya tidak bisa tidur enak selama dalam pesawat dari Indonesia ke Jerman..:) Karena tetap berpuasa, dan saya sudah menyiapkan jadwal buka di Koln yang saya ambil dari internet (thanks islamicfinder.com…)…alhamdulillah saya bisa bangun tepat beberapa saat sebelum buka puasa..berbuka pun hanya dengan biskuit dan air putih (thanks buat Hilman di Glasgow yang mengingatkan saya untuk membawa bekal biskuit dari tanah air..:). Tak berapa lama kemudian, sekitar pukul 19.00 kami harus turun ke lantai dasar untuk mengikuti opening ceremony yang dilakukan di lobby dengan suasana yang santai, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama. Saya semeja dengan Aruna (yang ahirnya menjadi teman akrab saya, maklum..sama-sama delegasi dari Asia), Veli dari Ajerbaijan (dia muslim juga lho…), Salma dari Pakistan (yang tangannya masih cedera setelah kecelakaan beberapa waktu sebelumnya), dan Ahmed. 

Setelah makan malam, kami beramai-ramai menuju ruang seminar untuk mengikuti arahan sejenak tentang seminar yang akan dimulai keesokan harinya. Di luar ruangan seminar, terdapat berbagai macam bendera dari seluruh peserta (21 negara berkembang yang mewakili wilayah Asia, Timur Tengah, Afrika, Eropa Tengah dan Eks Uni Sovyet, serta Amerika Latin) dan kami diminta mengambil bendera kami masing-masing untuk ditempatkan di depan tempat duduk kami. Kami pun diwajibkan mengenakan alat bantu penterjemah..persis seperti rapat internasional, maklum..panitia memang mangakomodasi kepentingan peserta dari eks Uni Sovyet dan Amerika Latin yang kurang bisa berbahasa Inggris dengan menyediakan penterjemah Inggris – Rusia (Anna Mantel dan Anna Whitcroft) dan Inggris – Spanyol (Pablo Caravia dan Michael Hesse) . Jadilah kami ini diskusi dengan tiga bahasa ; Inggris, Spanyol, dan Rusia. Dalam suasana santai, antar peserta di kelompok The Russian (Ekaterina, Alexej, dan Inna - Rusia, Ilze - Latvia, Veli – Azerbaijan, dan Irakli - Georgia) dan Spanish (Vicky - Argentina, Manuel - Guatemala, Ana - Mexico, Juan - Nicaragua, Christian - Paraguay, dan Alejandro - Costa Rica) akan bercakap-cakap dengan bahasa mereka masing-masing. Tapi..kadang kami yang berbahasa Inggris ini juga sedikit-sedikit belajar bahasa Spanyol (Como estas, gracias, dll..) dan Rusia…sambil mengajari mereka bahasa Inggris juga. Kebetulan Ana, Manuel, dan Vicky bisa berbahasa Inggris dengan baik, walau dalam diskusi mereka tetap merasa lebih bebas bicara dalam bahasa Spanyol. Demikian juga Ilze, yang bisa bercakap-cakap dalam berbagai bahasa..sering berbahasa Rusia. Sedangkan Veli, Ekaterina, dan Irakli yang bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit, cenderung malu-malu berbahasa Inggris, hehe… 

Akhirnya kami pun jadi saling belajar budaya dan bahasa, hehe..bahkan saya pun sempat mengenalkan bahasa Melayu/Indonesia kepada mereka, bahkan bahasa Jawa juga !! Yang memakai huruf ho-no-co-ro-ko, dho-to-so-wo-lo segala, haha…. Kadang-kadang saya dan Saravanan atau lebih akrab dipanggil Sara (dari Malaysia tapi keturunan India) bercakap-cakap memakai bahasa Melayu, demikian juga yang dari Timur Tengah (Lorice dari Palestina, Jamal dari Jordania, dan Ahmed dari Mesir) kadang bercakap-cakap dengan bahasa Arab. Salma sempat mengenalkan bahasa asli Pakistan, Urdu, kepada kami, demikian juga Aruna dari Nepal. Kemudian, saya yang bisa berbahasa Arab sedikit-sedikit juga mengenalkan angka Arab, dan membaca huruf-huruf Arab…maklum, kan bisa membaca Al-Qur'an. Sebaliknya, para panitia yang semuanya dari Jerman..juga bercakap-cakap sesama mereka dengan bahasa Jerman. Pokoknya, suasana jadi ramai dengan berbagai macam bahasa itu…:) 

Belum lagi logat Inggris yang masing-masing negara mempunyai ke-khas-an masing-masing. Leon (dari Afsel yang keturunan Belanda) sangat fasih dan berbicara cepat dalam bahasa Inggris, Victor Moyo (julukannya The King) dari Zimbabwe berbahasa Inggris dengan sangat bagus (termasuk dalam tata bahasanya) karena dia memang juru bicara sebuah partai politik (yang beroposisi dengan Presiden Robert Mugabe !! hehe..dia ngiri lho pada mahasiswa Indonesia yang berhasil melengserkan Presiden Soeharto, sementara Robert Mugabe yang boleh dikatakan 'teman' Soeharto belum berhasil dilengserkan juga sampai saat ini.. :), sementara Taikee alias John Paolo (Philipina) mempunyai aksen Inggris yang unik, demikian juga dengan Avinoam dari Israel yang cenderung memakai slang Amerika karena pernah tinggal di sana, yang kadang dengan Lorice juga bercakap-cakap dalam bahasa Hebron !! Si Avinoam ini yang ternyata belum pernah mendengar bahasa Melayu sebelumnya sempat menyangka kalau saya dan Sara memakai bahasa jungle, haha…. 

Selanjutnya, sebelum pertemuan arahan malam itu berakhir kami diminta untuk saling berkenalan…melakukan wawancara dengan pasangan yang telah ditunjuk untuk kemudian mempresentasikan di hari pertama seminar. Saya berpasangan dengan Lorice dari Palestina, dan malam itu kami jadi bisa saling mengobrol tentang banyak hal…hehe, untuk persiapan keesokan harinya..:). Akhirnya setelah lelah ngobrol, kami balik menuju kamar masing-masing karena esoknya kami harus sudah ada di ruang seminar tepat jam 09.00 waktu setempat (panitia dari Jerman memang membuat lelucon, semua harus mematuhi SGT alias Super Germany Time) !! 

Esoknya, dengan pengalaman sahur pertama kali di Jerman dan alhamdulillah..saya bisa melakukannya tanpa kesulitan, saya tetap berpuasa..sambil membawa jadwal sholat yang telah saya miliki untuk dicocokkan dengan kepunyaan Ahmed yang dia download dalam bahasa Arab !! Menariknya, pada saat saya dan Ahmed mendiskusikan jadwal sholat tersebut banyak teman-teman dari negara lain yang bukan muslim mengelilingi kami dan bertanya banyak hal tentang jadwal sholat itu..sekaligus tentu saja jadwal buka puasa (iftar) dan sahur….Interesting and exciting !! kata mereka…:) 

Hari pertama seminar yang diawali dengan perkenalan ternyata berjalan dengan lancar…kami mengawali diskusi dengan kondisi politik dan ideologi per kelompok wilayah di dunia sesuai asal peserta seminar, dan tentu saja saya tergabung dalam kelompok Asia… Selesai brainstorming, seluruh peserta diminta berkumpul bersama untuk berfoto dengan semua panitia, penterjemah dan fasilitator yang kelak foto kenang-kenangan tersebut diberikan pada saat makan malam terakhir kami…:) Ohya, di hari pertama itu, akhirnya saya juga membagikan kenang-kenangan berupa gantungan kunci dan pensil yang berhias wayang kulit yang terbuat dari perak. Saya menemukan dan membeli pernak-pernik itu sehari sebelum berangkat ke Jerman. Waktu itu saya sempat mikir, apa ya yang bisa membuat teman-teman saya nanti ingat akan Indonesia ? Dan akhirnya ketika menemukan kerajinan tersebut di Balai Pemuda Surabaya, saya langsung jatuh cinta…bentuknya kecil, pipih, dan tentu saja tidak makan tempat di kopor saya, tapi…benar-benar khas Jawa, walaupun tokoh wayang cerita Mahabarata aslinya dari India sono… (hehe, thanks pada Salma dari Pakistan yang tahu tentang legenda Mahabarata tersebut dan membantu saya menerangkan ke teman-teman lainnya…).  


The Asian Delegation With The King

Lucunya, tokoh-tokoh tersebut bentuknya macam-macam, dan saya tentu saja tidak hafal dengan beratus-ratus tokoh tersebut..makanya ketika saya menjelaskan bahwa wayang adalah traditional puppet from Java dan ada lebih dari seratus karakter wayang, mereka beramai-ramai menanyakan ke saya, siapa nama tokoh masing-masing dalam gantungan kunci tersebut (yang saya berikan ke masing-masing teman)..waduh, saya pun ngawur aja..:) abisnya, kenalnya cuma Rahwana, Arjuna, Srikandi, Gatotkaca..lainnya nggak tahu !! Haha..mereka sih percaya saja, lha wong nggak ngerti…. Hebatnya, Alejandro dari Costa Rica, sempat menulis email ke saya setelah pulang dari Jerman, istrinya pengin tahu banyak soal wayang, nah lo !! Ya udah, saya carikan website tentang wayang yang berbahasa Inggris, biar mereka belajar sendiri, hihi..padahal Alejandro juga belum fasih betul berbahasa Inggris. Tentu saja tugasnya sebagai penasehat salah satu anggota kongres di Costa Rica kebanyakan memakai bahasa Spanyol…. 

Menjelang sore ketika peserta lain sedang makan siang, saya sempat jalan-jalan di sekitar komplek Theodor-Heuss Academy dengan Feline (panitia) dan Wulf (fasilitator) serta temannya. Siang yang cerah..sungguh tidak biasa terjadi saat di penghujung musim gugur menjelang musim dingin…dan percaya atau tidak, siang pada hari pertama itulah satu-satunya cuaca cerah yang saya temui selama dua minggu di Jerman. Esoknya dan esoknya lagi..cuaca diliputi mendung, dan berangin bahkan kadang hujan dan bersalju (tentu saja, khan sudah mulai musim dingin…) tapi, saya toh tetap menikmatinya dengan berjalan-jalan bersama teman-teman sesama peserta seminar… 


Wulf's friend, me, and Feline


Dari hari ke hari acara seminar semakin seru, berbagai topik diperdebatkan mulai dari kondisi politik, ekonomi, pendidikan, budaya, dan teknologi (termasuk science) yang berhubungan dengan berbagai ideologi yang berkembang saat ini. Suatu saat kami diminta untuk membandingkan sistem centralism, socialism, dan liberalism..kemudian, diskusi juga dibagi per kelompok bahasa (Inggris, Spanyol, dan Rusia) dengan konsekuensi, yang dari kelompok berbahasa Inggris (karena jumlahnya lebih banyak), diminta sukarela suatu kali (bergantian) bergabung dengan kelompok berbahasa Rusia atau Spanyol… Kami jadi belajar banyak hal dari kondisi masing-masing negara, bahkan peta politik dunia. Bahkan kami dihadapkan pada pertanyaan, mana yang harus ada lebih dulu dalam sebuah negara sistem demokrasi atau rule of law-nya. Kami harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan beradu argumentasi tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing kondisi tersebut. Pokoknya seru banget !! Apalagi kawan-kawan saya ini kebanyakan lawyer dan paham politik, sehingga saya yang berlatar belakang ekonomi ini bisa belajar banyak dari mereka. Kemampuan bahasa akan sangat menunjang dalam mengikuti kegiatan ini, bagaimanapun saya terkagum-kagum pada Leon yang sangat jago berdebat, persis adegan di film-film Hollywood yang menggambarkan perdebatan di persidangan, bahkan dengan joke-joke segala !! Pokoknya saya sampai ngiri…saya kok belum pernah ya ketemu anak-anak muda Indonesia yang seperti ini ? Atau saya aja yang kuper ? Yang jelas seri seminar yang diselenggarakan oleh FNSt setiap bulan dengan topik yang berbeda ini adalah kesempatan dan ajang unjuk kemampuan sekaligus tantangan bagi kita sebagai duta bangsa. 


Centralism, Socialism, and Liberalism

Ada pula saat-saat kami bercanda bersama setelah makan malam, dengan diskusi berbagai topik mulai soal film favorit (wah, saya jadi ingat ternyata saya dan Manuel sama-sama suka film You've Got Mail !! Maklum, saya ngefans berat sama Tom Hanks, dia sempat kaget..karena baru kali itu dia ketemu cewek yang ngefans Tom Hanks !! Soalnya cewek-cewek biasanya ngefas Tom Cruise, hehe..kaya' dia, Brad Pitt, dll. Manuel ngefans berat sama Meg Ryan, bahkan dia janji suatu hari nanti dia akan menikah dengan Meg, wuih..), soal makanan khas (hehe…jadi inget cerita Taikee tentang soup number one di Philipina !! Hayo tebak, terbuat dari apa ? Saya tak mau kalah, cerita soal rujak cingur makanan khas Surabaya..cingur itu adalah nose of the cow !! Wow…), soal budaya, sampai kerusuhan yang terjadi di negara kami masing-masing (Pablo sempat mendengar tragedi Sampit dengan aksi suku Dayak yang bermusuhan dengan suku Madura lho…). Tapi ternyata, kejadian di Timor Timur dan Aceh (yang menurut rakyat Indonesia sebuah persoalan serius) tidak banyak menarik perhatian mereka. Indonesia tetaplah masih dianggap negara besar dengan 13.000-an pulaunya (haha..bahkan saya dijuluki Miss 13.000 islands !!). Masing-masing negara berkembang itu menyimpan banyak masalah dalam negeri mereka juga (dan tentu saja yang paling menarik perhatian adalah masalah Israel – Palestina), sehingga mereka tidak terlalu mengetahui kondisi persisnya masing-masing negara berkembang lainnya. Konflik di Timur Tengah bahkan dianggap delegasi Israel adalah permainan politik yang tiada habisnya, yang ujung-ujungnya kadang hanya menguntungkan kelompok ekstrem kanan di Israel, sementara Lorice dari Palestina tetap berteman baik dengan Avinoam. Lorice bahkan tetap berjuang melalui kemampuannya di jurnalistik radio dan membantu anak-anak Palestina untuk tetap optimis memandang hidup dan masa depan mereka. 

Dalam komplek Theodor-Heuss Academy tersebut juga disediakan fasilitas telepon kartu (beli kartu yang 5 euro untuk nelpon ke Indonesia cuma beberapa menit akan habis pulsanya.. :), bar yang buka setiap malam (kami diberi koin-koin untuk menukar minuman dan makanan kecil), internet (bayar sendiri 0,5 euro per 15 menit, mahal ya…), laundry (bayar sekitar 4 euro sekali cuci dan mengeringkan baju) dan fasilitas olahraga gratis (tennis, bilyar, dan tenis meja..hehe, istilah dalam Spanyol ping-pong juga lho…). Saya sempat menang satu kali main bilyar saat berpasangan dengan Inna melawan Fatma yang jago banget dan Ekaterina..:) Bahkan di akhir seminar diadakan pertandingan ping-pong antar peserta, saya kalah dari Veli di babak awal, tapi…tetap menyumbang biskuit saya sebagai hadiah, hehe…dan tentu saja yang menang Christian yang setiap malam kerjaannya main ping-pong !! Jadi kami pun tak kekurangan hiburan, meski kadang beberapa teman-teman sering juga keluar malam ke kota Gummersbach..mencoba melihat kehidupan malam di kota kecil tersebut, dan kata Avinoam katanya karena dia kangen makan hamburger di McDonald !! Haha… Soal makanan kami juga tidak mengalami masalah, bahkan sejak malam pertama panitia sudah mendata siapa saja yang tidak minum anggur, bir, makan pork, dsb. Jadi insyaallah makanan yang disediakan halal dan selalu ada nasinya lho…, kalaupun ada pork-nya, pasti diberikan labelnya. Bahkan kami yang berpuasa ini diperbolehkan membawa sebagian makanan hidangan makan malam ke kamar, untuk makan sahur…(saat buka puasa kami hanya minum saja, karena acara seminar berlangsung sampai pukul 19.00, dan makan malam beramai-ramai dengan teman-teman, kami anggap sebagai buka puasa 'besar'-nya) alhamdulillah..tapi, biasanya untuk sahur saya hanya mengambil buahnya saja. Soalnya khan sudah menimbun biskuit, itu sudah cukup buat saya… 

Sekian dulu cerita bagian kedua….saya akan sambung lagi kisahnya tentang kegiatan di paruh minggu kedua saya di Jerman, jalan-jalan ke kamp konsentrasi NAZI di Nordhausen, kunjungan ke Tembok Berlin dan Magdebug City..serta jalan-jalan ke pabrik mobil Volkswagen alias VW !!



Posted by Early at 07:48

odie
December 20, 2007   04:00 AM PST
 
mbak bahasa indonesianya smirnoff flaviakremlyoskaya itu ap?
Pembaca Setia
November 12, 2004   01:07 PM PST
 
Betul Mas Ydouglas,

judulnya berbunyi "Sepenggal Cerita ..." tapi isine dowo nemen ... bersambung lagi ... he he ...


:)
ydouglas
November 11, 2004   10:42 PM PST
 
mbak early konsultan apaan sih..
gile bener postingannya panjang amat....apa nggak cape mencet2 keyboardnya kompie...pasti ada yg mijitin ya hahahha....:)
ghofarism
November 11, 2004   10:33 AM PST
 
halo early, assalamualaikum! apa kabar? menarik sekali tuh tema liberalisme... Mudah2an orang generasi masa depan Indonesia akan lebih mafhum ttg isyu ini.
Aku semelang plus curiga adik2 yg tiap hari demo itu cuma bikin tenggorokan mereka sakit aja, tanpa tahu esensinya. Begitu juga dg pemain2 di level DPR. See ya.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments








Previous Entry Home Next Entry