|
Profile Consultant - Reading - Traveling - Jogging - Jazz - Classical - The Association For Advancement Of Small Business Surabaya - Indonesia Selalu ingin tahu sesuatu yang baru, teratur (tapi nggak streng banget), suka mengamati keindahan alam yang sederhana sekalipun (bersyukur..), cukup menikmati dan bahagia dengan hidupku..tapi, kadang-kadang naif juga (haha...)
The City of Perth
early_rahmawati@yahoo.co.uk Tagboard Calendar
My Friends Credits Layout: Marianne Picture: Stock.XCHNG |
Thursday, November 11, 2004
Sepenggal Cerita dan Kenangan di Jerman (2) Hidup yang sungguh-sungguh dan peduli bagaikan bermain puzzle. Ada pencarian, perakitan, sekaligus penemuan makna. Rasa puas bagaikan angin pagi yang menggelembung datang memasuki sukma ketika pelbagai kepingan puzzle kehidupan itu sebagian dapat ditata dan menghadirkan makna (Hernowo – Suara dari Dalam, Merayakan Kemenangan Intelektual Yudi Latif) Kepergian saya untuk menghadiri seminar tentang liberalisme di Jerman atas undangan dari Frederick Naumann Stiftung (FNSt) sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan politik khususnya liberal, memang telah melalui proses beberapa bulan sebelumnya. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan topik ini..tapi entah kenapa setelah browsing beberapa kali di internet, saya menemukan hal-hal menarik yang mendorong saya ingin tahu lebih lanjut tentang paham liberalisme..yang di Indonesia masih banyak dihujat oleh banyak kalangan. Berbekal beberapa potongan informasi itulah saya beranikan diri untuk mendaftarkan diri mengikuti seleksi menjadi peserta seminar tersebut. Setelah melalui tahap wawancara, dan atas otoritas panitia seminar di Jerman, saya dinyatakan lolos untuk berangkat ke Jerman..hanya tiga minggu menjelang pelaksanaan seminar ! Tentu saja saya agak panik mengingat masih banyaknya pekerjaan yang harus saya selesaikan, apalagi pelaksaannya pas bulan puasa… Tapi, syukurlah..berbekal banyak informasi dan bantuan dari Mbak Irina dari FNSt yang menguruskan dan administrasi dan visa, saya hampir-hampir tidak mengalami hambatan yang berarti dalam persiapan keberangkatan ke Jerman. Gimana nggak ? Ternyata berangkat ke Uni Eropa sangat mudah kalau ada sponsornya, ngisi aplikasi visa cuma selembar bolak balik dan seminggu jadi !! Bandingkan saat saya mesti ngisi berlembar-lembar kertas aplikasi visa untuk Australia saat mau berangkat short course dua bulan dan periksa kesehatan juga…Jadi, meski sama-sama berangkat karena ada sponsornya, masing-masing negara mempunyai kebijakan yang berbeda… Menyambung cerita bagian <pertama> ….(baca edisi web-blog saya beberapa bulan lalu ya…:) Sesampai di Koln..ternyata banyak kejadian lucu, selain mengetahui ternyata pria keren yang duduk di sebelah saya di pesawat Luftansa ternyata adalah Manuel dari Guatemala (hehe..wajahnya mirip Tom Cruise lho…malah lebih cakep..J ), juga beberapa orang yang saya lihat di ruang tunggu Bandara Frankfurt ternyata juga peserta seminar yang sama..kami tahu saat dijemput panitia di Bandara Konrad Adenaur Koln. Pertama-tama saya kenalan dengan Leon (Afsel) yang melihat saya mondar-mandir mencari panitia penjemput, dia sendiri juga lagi bingung…dan akhirnya kami bertemu juga dengan panitia penjemput. Kemudian saat di mobil kami bertemu dengan Anna Whitcroft, penerjemah Rusia - Inggris yang dijemput setelah perjalanannya dari London, trus bertemu dengan Ahmed (Mesir) dan Aruna (Nepal), dan kemudian baru Manuel…hehe, saat kami sudah di mobil, Manuel kelihatan masih bolak-balik di bagian pengaduan bagasi karena tasnya hilang (emang kegedean sih dibawa ke kabin, soalnya pesawat kami kan Foker…jadi oleh pramugarinya diturunkan ke bagasi, sesampai di Koln ternyata tasnya nggak ada !). Saat itu saya sempat berpikir, jangan-jangan dia peserta juga…ternyata dugaan saya benar. Baru deh setelah dia masuk mobil dan bertemu saya, kami berkenalan dan tertawa bersama mengingat saling 'jaim' saat di pesawat…:) tasnya emang raib entah kemana, tapi kemudian diantar sorenya ke Gummersbach. Menikmati perjalanan siang itu ke dari Koln menuju Gummersbach, pemandangan di sepanjang jalan sungguh cantik. Dengan daun-daun berwarna-warni : merah, coklat, kuning, sesekali ada hijau..sisa-sisa musim gugur memang masih ada di awal November itu. Saat itu saya pun sempat mengirim sms kepada Mas Hendra (hore….kartu Halo bisa dipakai di Jerman meski sekali sms mahal banget, Rp 2.500,- !! ). Seperti halnya saya, Mas Hendra adalah seorang Mayist (penggemar karya Karl May, novelis Jerman terkenal itu…). Dia bekerja di Radio DW di Bonn. Mas Hendra mengucapkan selamat datang ke Jerman..mempersilakan saya untuk menikmati alam Jerman, khususnya Gummersbach, kota kecil namun cantik. Wah, saya jadi tak sabar ingin segera sampai di Gummersbach ! Sayang sekali..saya ternyata tidak sempat bertemu muka dengan Mas Hendra ini..kami cuma saling kirim sms aja sampai sekarang, hehe…. Jalan-jalan yang kami lalui sungguh bersih dan teratur…beda banget dengan suasana di Indonesia, dan akhirnya setelah sekitar 30 menit perjalanan sampailah kami di Gummersbach..langsung menuju Theodor-Heuss Academy tempat seminar dan sekaligus asrama kami selama kurang lebih dua minggu. Bangunannya dari luar cenderung minimalis, dan mungkin memang inilah yang menjadi ciri khas bangunan modern Jerman, ada banyak celah dan ruang-ruang sempit dengan berbagai model anak tangga yang ditata sedemikian cantiknya dan tentu saja menjadi ruang-ruang yang berguna… mengingatkan saya pada gaya bangunan PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) di Trawas Mojokerto yang konon arsiteknya juga orang Jerman.
Lucunya, tokoh-tokoh tersebut bentuknya macam-macam, dan saya tentu saja tidak hafal dengan beratus-ratus tokoh tersebut..makanya ketika saya menjelaskan bahwa wayang adalah traditional puppet from Java dan ada lebih dari seratus karakter wayang, mereka beramai-ramai menanyakan ke saya, siapa nama tokoh masing-masing dalam gantungan kunci tersebut (yang saya berikan ke masing-masing teman)..waduh, saya pun ngawur aja..:) abisnya, kenalnya cuma Rahwana, Arjuna, Srikandi, Gatotkaca..lainnya nggak tahu !! Haha..mereka sih percaya saja, lha wong nggak ngerti…. Hebatnya, Alejandro dari Costa Rica, sempat menulis email ke saya setelah pulang dari Jerman, istrinya pengin tahu banyak soal wayang, nah lo !! Ya udah, saya carikan website tentang wayang yang berbahasa Inggris, biar mereka belajar sendiri, hihi..padahal Alejandro juga belum fasih betul berbahasa Inggris. Tentu saja tugasnya sebagai penasehat salah satu anggota kongres di Costa Rica kebanyakan memakai bahasa Spanyol…. Menjelang sore ketika peserta lain sedang makan siang, saya sempat jalan-jalan di sekitar komplek Theodor-Heuss Academy dengan Feline (panitia) dan Wulf (fasilitator) serta temannya. Siang yang cerah..sungguh tidak biasa terjadi saat di penghujung musim gugur menjelang musim dingin…dan percaya atau tidak, siang pada hari pertama itulah satu-satunya cuaca cerah yang saya temui selama dua minggu di Jerman. Esoknya dan esoknya lagi..cuaca diliputi mendung, dan berangin bahkan kadang hujan dan bersalju (tentu saja, khan sudah mulai musim dingin…) tapi, saya toh tetap menikmatinya dengan berjalan-jalan bersama teman-teman sesama peserta seminar…
Dari hari ke hari acara seminar semakin seru, berbagai topik diperdebatkan mulai dari kondisi politik, ekonomi, pendidikan, budaya, dan teknologi (termasuk science) yang berhubungan dengan berbagai ideologi yang berkembang saat ini. Suatu saat kami diminta untuk membandingkan sistem centralism, socialism, dan liberalism..kemudian, diskusi juga dibagi per kelompok bahasa (Inggris, Spanyol, dan Rusia) dengan konsekuensi, yang dari kelompok berbahasa Inggris (karena jumlahnya lebih banyak), diminta sukarela suatu kali (bergantian) bergabung dengan kelompok berbahasa Rusia atau Spanyol… Kami jadi belajar banyak hal dari kondisi masing-masing negara, bahkan peta politik dunia. Bahkan kami dihadapkan pada pertanyaan, mana yang harus ada lebih dulu dalam sebuah negara sistem demokrasi atau rule of law-nya. Kami harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan beradu argumentasi tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing kondisi tersebut. Pokoknya seru banget !! Apalagi kawan-kawan saya ini kebanyakan lawyer dan paham politik, sehingga saya yang berlatar belakang ekonomi ini bisa belajar banyak dari mereka. Kemampuan bahasa akan sangat menunjang dalam mengikuti kegiatan ini, bagaimanapun saya terkagum-kagum pada Leon yang sangat jago berdebat, persis adegan di film-film Hollywood yang menggambarkan perdebatan di persidangan, bahkan dengan joke-joke segala !! Pokoknya saya sampai ngiri…saya kok belum pernah ya ketemu anak-anak muda Indonesia yang seperti ini ? Atau saya aja yang kuper ? Yang jelas seri seminar yang diselenggarakan oleh FNSt setiap bulan dengan topik yang berbeda ini adalah kesempatan dan ajang unjuk kemampuan sekaligus tantangan bagi kita sebagai duta bangsa.
Ada pula saat-saat kami bercanda bersama setelah makan malam, dengan diskusi berbagai topik mulai soal film favorit (wah, saya jadi ingat ternyata saya dan Manuel sama-sama suka film You've Got Mail !! Maklum, saya ngefans berat sama Tom Hanks, dia sempat kaget..karena baru kali itu dia ketemu cewek yang ngefans Tom Hanks !! Soalnya cewek-cewek biasanya ngefas Tom Cruise, hehe..kaya' dia, Brad Pitt, dll. Manuel ngefans berat sama Meg Ryan, bahkan dia janji suatu hari nanti dia akan menikah dengan Meg, wuih..), soal makanan khas (hehe…jadi inget cerita Taikee tentang soup number one di Philipina !! Hayo tebak, terbuat dari apa ? Saya tak mau kalah, cerita soal rujak cingur makanan khas Surabaya..cingur itu adalah nose of the cow !! Wow…), soal budaya, sampai kerusuhan yang terjadi di negara kami masing-masing (Pablo sempat mendengar tragedi Sampit dengan aksi suku Dayak yang bermusuhan dengan suku Madura lho…). Tapi ternyata, kejadian di Timor Timur dan Aceh (yang menurut rakyat Indonesia sebuah persoalan serius) tidak banyak menarik perhatian mereka. Indonesia tetaplah masih dianggap negara besar dengan 13.000-an pulaunya (haha..bahkan saya dijuluki Miss 13.000 islands !!). Masing-masing negara berkembang itu menyimpan banyak masalah dalam negeri mereka juga (dan tentu saja yang paling menarik perhatian adalah masalah Israel – Palestina), sehingga mereka tidak terlalu mengetahui kondisi persisnya masing-masing negara berkembang lainnya. Konflik di Timur Tengah bahkan dianggap delegasi Israel adalah permainan politik yang tiada habisnya, yang ujung-ujungnya kadang hanya menguntungkan kelompok ekstrem kanan di Israel, sementara Lorice dari Palestina tetap berteman baik dengan Avinoam. Lorice bahkan tetap berjuang melalui kemampuannya di jurnalistik radio dan membantu anak-anak Palestina untuk tetap optimis memandang hidup dan masa depan mereka. Dalam komplek Theodor-Heuss Academy tersebut juga disediakan fasilitas telepon kartu (beli kartu yang 5 euro untuk nelpon ke Indonesia cuma beberapa menit akan habis pulsanya.. :), bar yang buka setiap malam (kami diberi koin-koin untuk menukar minuman dan makanan kecil), internet (bayar sendiri 0,5 euro per 15 menit, mahal ya…), laundry (bayar sekitar 4 euro sekali cuci dan mengeringkan baju) dan fasilitas olahraga gratis (tennis, bilyar, dan tenis meja..hehe, istilah dalam Spanyol ping-pong juga lho…). Saya sempat menang satu kali main bilyar saat berpasangan dengan Inna melawan Fatma yang jago banget dan Ekaterina..:) Bahkan di akhir seminar diadakan pertandingan ping-pong antar peserta, saya kalah dari Veli di babak awal, tapi…tetap menyumbang biskuit saya sebagai hadiah, hehe…dan tentu saja yang menang Christian yang setiap malam kerjaannya main ping-pong !! Jadi kami pun tak kekurangan hiburan, meski kadang beberapa teman-teman sering juga keluar malam ke kota Gummersbach..mencoba melihat kehidupan malam di kota kecil tersebut, dan kata Avinoam katanya karena dia kangen makan hamburger di McDonald !! Haha… Soal makanan kami juga tidak mengalami masalah, bahkan sejak malam pertama panitia sudah mendata siapa saja yang tidak minum anggur, bir, makan pork, dsb. Jadi insyaallah makanan yang disediakan halal dan selalu ada nasinya lho…, kalaupun ada pork-nya, pasti diberikan labelnya. Bahkan kami yang berpuasa ini diperbolehkan membawa sebagian makanan hidangan makan malam ke kamar, untuk makan sahur…(saat buka puasa kami hanya minum saja, karena acara seminar berlangsung sampai pukul 19.00, dan makan malam beramai-ramai dengan teman-teman, kami anggap sebagai buka puasa 'besar'-nya) alhamdulillah..tapi, biasanya untuk sahur saya hanya mengambil buahnya saja. Soalnya khan sudah menimbun biskuit, itu sudah cukup buat saya… Sekian dulu cerita bagian kedua….saya akan sambung lagi kisahnya tentang kegiatan di paruh minggu kedua saya di Jerman, jalan-jalan ke kamp konsentrasi NAZI di Nordhausen, kunjungan ke Tembok Berlin dan Magdebug City..serta jalan-jalan ke pabrik mobil Volkswagen alias VW !! Posted by Early at 07:48
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||