Profile

WELCOME

Sign In

Consultant - Reading - Traveling - Jogging - Jazz - Classical - The Association For Advancement Of Small Business Surabaya - Indonesia

Selalu ingin tahu sesuatu yang baru, teratur (tapi nggak streng banget), suka mengamati keindahan alam yang sederhana sekalipun (bersyukur..), cukup menikmati dan bahagia dengan hidupku..tapi, kadang-kadang naif juga (haha...)

The City of Perth
Surat dari Sahabat 1, 2, 3
Cerita tentang Jerman 1, 2, 3
Jalan² ke Ranah Minang 1, 2

Early's Photos

early_rahmawati@yahoo.co.uk

Tagboard

   

Calendar

<< December 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


My Friends

The Secret 2 Success

Kampung Donat

50 Kota

Cimbuak

Agustin

TGO

OSS

PUPUK

Lulu'

Rini

Gita

Mita

Hadik

Alex

Pito

Fanabis

Endiks

Hedi

Bangsari

Indah

Kesya

GreenRoom

Anang

Vivink

Erny

Zumux

Bahtiar


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:
rss feed


Credits

Layout: Marianne
Picture: Stock.XCHNG
BLOGDRIVE
TEMPLATES
Blogdrive
Friday, December 24, 2004
Sepenggal Cerita dan Kenangan di Jerman – 3


Sehari di Kota Berlin

Akhir minggu pertama seminar di Jerman, ternyata panitia telah merencanakan kunjungan ke beberapa tempat yang relevan dengan tema seminar (kunjungan ke parlemen kota, kepolisian, dan perusahaan mobil VW) sekaligus mengenal lebih jauh sejarah Jerman, dengan mengunjungi salah salu kamp konsentrasi NAZI di Nordhausen dan Tembok Berlin.  

Jum'at malam sebelum keberangkatan kami, panitia membekali perjalanan kami dengan pemutaran film seputar kekejaman tentara NAZI dan suasana di kamp konsentrasi yang sangat menyedihkan. Tapi..sepanjang film itu saya tidak bisa konsentrasi, gara-gara lupa nama seorang anak yang terkenal karena buku hariannya saat bersembunyi di loteng rumahnya dari kejaran tentara NAZI di Amsterdam. Barulah pada saat kami selesai nonton film dan menunggu antrean masuk lift untuk menuju kamar kami masing-masing, saya bertanya pada teman-teman, "Who's the girl with the famous diary ?". Spontan Manuel menjawab, "Anne Frank". Tanpa sadar saya agak berteriak, "Oh…my God, I'm forget her name !". Seketika teman-teman tertawa…dan setelah itu saya dan Manuel berdebat tentang bagaimana meninggalnya gadis itu, di kamp konsentrasi atau bukan. Saya ngotot dia memang mati di kamp itu karena persembunyian mereka terungkap oleh tetangga dan akhirnya keluarga Anne dimasukkan dalam kamp konsentrasi, dan di sanalah satu persatu meninggal ; ibunya, kakaknya Margot, dan akhirnya Anne sendiri..yang karena putus asa mengetahui semua keluarganya mati, padahal sebenarnya ayahnya masih hidup. Tentu saja dia tidak tahu kalau ayahnya masih hidup karena kamp konsentrasi memang dipisah antara laki-laki dan perempuan… Hm, ingat film Life is Beautiful khan ? Bagaimana usaha Roberto Benigni memutarkan sebuah lagu kesayangan istrinya lewat gramophon agar terdengar dari kamp konsentrasi wanita, menyampaikan pesan bahwa dia masih hidup ? Begitulah….tapi, Manuel tidak percaya Anne mati di kamp konsentrasi !! Pokoknya kata dia Anne mati sebelum masuk kamp. Entah mana versi yang benar, saya sih tahunya karena memang punya VCD film yang menceritakan tentang kehidupan Anne Frank..:) 


Ilze Fatma Early Aruna in the front of Reconciliation Monument


Tapi..akhirnya perdebatan kami berakhir dengan sendirinya karena kami sudah capek seharian itu, di luar jam yang biasanya. Padahal kami sudah harus berangkat Sabtu pagi esoknya jam 8.00, pokoknya SGT alias Super Germany Time deh !! Meski panitia bilang mereka memahami ada beberapa dari kami yang budayanya agak memberikan toleransi keterlambatan, mereka tidak akan peduli, kalo terlambat akan ditinggal !! Dengan mengingat tips dari Mbak Irina, saya berkemas untuk perjalanan selama empat hari berikutnya… 

Paginya, ternyata teman-teman dengan penuh semangat sudah bersiap-siap dan tidak ada yang kesulitan bangun pagi… Bahkan karena jam 8.00 itu belum disediakan sarapan pagi, kami dibawakan bekal oleh panitia, senang sekali…saya pun memutuskan untuk tidak puasa karena tiba-tiba tidak enak badan dan harus minum obat, meski saya sebenarnya sudah merasakannya sejak beberapa hari sebelumnya. Yang heboh ternyata bawaan teman-teman saya, mereka ternyata membawa semua pakaian biar tidak repot memilah-milah…waduh, saya jadi merasa cukup senang bisa mengemas baju-baju untuk perjalanan 4 hari dalam sebuah ransel !! Memang sih ternyata tidak masalah jika membawa semua barang bawaa kita, soalnya bus-nya besar sekali, dan tentu saja bagasinya juga cukup besar untuk menampung kami semua yang berjumlah kira-kira 35 orang (peserta, panitia, fasilitator, dan penerjemah sekaligus), bahkan masih ada beberapa tempat duduk yang kosong lho… 


In the front of our bus

Suasana mendung dan cenderung snowy pada awalnya membuat kami kurang bisa melihat suasana alam selama dalam perjalanan, tapi lama kelamaan cuaca sungguh cerah….dan akhirnya saya pun bisa menikmati awal musim dingin yang indah. Untungnya, dalam bus itu saya duduk di belakang Michael, yang asli Jerman dan tinggal di Muenchen. Jadi, saya bisa bertanya macam-macam hal yang kami temui selama dalam perjalanan. 

Selama kurang lebih empat jam perjalanan menuju Nordhausen, kami melalui beberapa kota-kota kecil seperti Dresden (Saya sebenarnya ingin sekali mengunjungi Museum Karl May di Dresden. Karl May adalah pengarang terkenal, sang pencipta tokoh Winnetou, Old Shatterhand, Kara ben Namsi, dll… tapi sayang sekali waktunya tidak memungkinkan. Tunggu ya Charlie…saya berjanji akan kembali ke Deutsland suatu hari nanti dan berkunjung ke Dresden !!) dan ingat tidak, Pak Harto dulu pernah didemo di kota ini !! Saya juga melewati kota tempat Gereja Martin Luther berdiri yang menjadi tonggak munculnya agama Kristen Protestan, dll. Kota-kota tua dengan jalan-jalan yang sempit berbatu, rumah-rumah kecil (walau kadang pula diselingi dengan flat), dan tanah pertanian yang benar-benar khas Eropa, bukit-bukit yang permai (wow, saya sempat berdendang..'the hill will alive with the sound of music'…), pohon-pohon berdaun warna warni di akhir musim gugur….membuat saya teringat betapa saya dulu memang sangat ingin bisa jalan-jalan di Eropa dan kini impian itu telah menjadi kenyataan, alhamdulillah

Sesampai di kamp konsentrasi NAZI di Nordhausen, kami benar-benar takjub. Betapa komplek ini sangatlah besar….bahkan dilengkapi dengan tempat pembakaran mayat, yang dinding-dindingnya penuh lukisan yang menyiratkan penderitaan mereka yang akan dieksekusi. Bahkan kini di depan krematorium itu didirikan monumen untuk mengenang penderitaan para tawanan perang. Suasana mencekam sangat terasa…dilengkapi dengan jalur kereta yang digunakan untuk mengangkut hasil rakitan senjata yang menjadi hasil karya para tahanan selama dalam kamp konsentrasi. Tentu yang paling mengerikan adalah pada saat kami memasuki sebuah hanggar besar penuh lorong gelap, yang menjadi tempat tinggal para tawanan. Lorong itu begitu lembab, tanpa sinar matahari sama sekali. Mereka dikurung bertahun-tahun (pada saat jam kerja mereka keluar lorong) sampai mereka mati kelaparan atau menunggu dieksekusi. Setiap sudut lorong yang berukuran sekitar 5 x 5 m diisi oleh sekitar 500 – 1000 orang, dengan fasilitas yang sangat minim, toilet pun hanya seukuran tong sampah !! Perancang lokasi itu memang sangat sistematis memperhitungkan semuanya (para tawanan toh akan mati pelan-pelan satu persatu), dan tentu saja pemandu kami yang masih sangat muda itu mengakui bahwa memang bangsa Jerman secara umum sangat sistematis mengatur semuanya. Sungguh, untuk bisa mengambil hikmah atas semuanya dan mencapai kemajuan seperti saat ini peradaban manusia ternyata harus melewati fase yang cukup mengerikan. Sayangnya kami tidak diperkenankan mengambil foto di beberapa tempat di wilayah kamp tersebut. 

Setelah kami keluar dari lorong itu, dengan tentu saja diabsen satu persatu (agar tidak ada yang ketinggalan di lorong kamp konsentrasi) kami akhirnya bisa menghirup udara yang cukup segar di sore yang indah itu. Selama dalam lokasi kamp itu pun kami tetap memakai alat bantu yang disediakan oleh panitia. Bagaimanapun kami sangat beruntung dapat mendengarkan penjelasan yang diberikan tanpa harus terlalu mendekat dengan pemandu dan penerjemah (bahkan bisa didengarkan sambil kita berjalan-jalan) karena canggihnya alat dengar yang kami pakai..:) 

Sekitar jam 4 sore kami akhirnya meninggalkan Nordhausen, dan mulailah perjalanan menuju kota Magdeburg. Perjalanan yang agak panjang sebenarnya..kami menempuh selama hampir 3 jam, melewati kota-kota kecil lagi, dalam senja menjelang malam yang cukup menyejukkan. Ketika akhirnya kami memasuki kota Magdeburg, terasa bahwa kota ini memang sebagian masih kuno, sisa peninggalan budaya jaman sosialis – komunis. Jangan salah, kota ini memang pernah menjadi bagian dari Republik Demokrasi Jerman Timur sebelum Tembok Berlin runtuh, dan tentu saja suasana 'sosialisme' masih terasa meski peristiwa itu telah berlalu lebih dari sepuluh tahun yang lalu. 

Kami menginap di Hotel Maritim di tengah kota, dekat plasa utama di Magdeburg. Setelah masing-masing peserta check in dan mendapat kamar, kami buru-buru makan malam jam 19.00 waktu setempat. Dengan fasilitas kamar yang cukup bagus, sebenarnya kami bisa saja langsung istirahat setelah makan malam mengingat besok pagi sekali kami harus berangkat ke Berlin, tapi ternyata sebagian dari kami 'memaksa' jalan-jalan…menyusuri suasana malam di bekas wilayah negara sosialis itu. Jadilah pada jam 10 malam kami mulai jalan-jalan, hm…ternyata suasana tidak jauh beda dengan kota-kota lainnya di Jerman. Apalagi saat itu malam minggu, jadi banyak sekali anak muda yang keluar malam ; ke bar, bioskop, atau sekedar ngumpul dan ngobrol di plasa. Sayangnya toko-toko tutup jam 9 malam, jadi..kami memang belum bisa belanja malam ini. Saya sempat tanya ke Manuel, "Jam berapa kita akan pulang ?" (hehe, dasar saya nggak pernah jalan malam). Eh, dengan santainya dia bilang, "Kita nggak akan pulang, pokoknya mau jalan-jalan sampai pagi..menikmati suasana malam di Magdeburg". Hah ? Tapi..pada akhirnya, karena sudah pada capek di jalan, kami khususnya yang perempuan memutuskan untuk pulang ke hotel sekitar jam 11 malam !! Lagian, saya sendiri masih sakit dan tidak kuat menghadapi hawa dingin, brrrrrrrrr….. 

Esoknya, setelah semalam saya agak susah tidur, saya berhasil juga bangun pagi..makan pagi jam 6 dan berangkat ke Berlin jam 7….eh, ternyata Lorice hampir ketinggalan. Dan setelah duduk di sebelah saya, dia memang mengakui kalau dia memang sering terlambat (dan sambil cerita tentang record keterlambatan dia) !! Oh, my God…untung aja dia sempat terbawa bus rombongan. Sopir bus kami sepasang suami istri yang menyetir bergantian, mereka mengelola bus mereka sendiri dan sudah menjadi langganan panitia seminar IAF ini…J lumayan khan…karena setiap bulan FNSt menyelenggarakan seminar dan selalu ada study excurse selama 4 hari…. 

Selama 1,5 jam kami menempuh perjalanan menuju Berlin, dengan tujuan pertama menuju lokasi bekas Tembok Berlin yang berada di depan Museum Tembok Berlin. Sempat agak kebingungan juga kamui mencari jalan yang tepat karena entah kenapa jalan menuju ke sana agak rumit. Dan akhirnya kami berhenti di lokasi yang dulunya merupakan wilayah Jerman Timur, dengan trem listriknya yang masih beroperasi, sebagaimana di Magdeburg. Suasana minggu pagi yang sepi dan dingin itu membuat kami kadang tidak betah berdiri diam-diam mendengarkan penjelasan pemandu dari Museum Tembok Berlin (jadi..kadang kami juga jalan-jalan sedikit mengitari lokasi..). Dan hebatnya lagi, pemandunya berasal dari Amerika lho…dia mampu menjelaskan sejarah berdirinya Tembok Berlin yang dimulai pada tahun 1950-an, yang awalnya hanya berupa kawat berduri dengan tinggi hanya sekitar 30 cm (ada foto-foto dramatis dimana sepasang ibu dan anak dari 'dua' Jerman yang mencoba untuk saling bersentuhan, dan foto dimana seorang tentara Amerika mencoba meloncati kawat berduri..untuk sekedar membuktikan bahwa pemisahan itu tidak ada artinya !!).


Berlin Wall diantara dua wilayah Berlin


Sebagai pihak pertama yang berinisiatif membangun tembok pemisah, Uni Soviet telah melakukan banyak hal yang menurutnya perlu dilakukan ; membongkar gereja (yang akhirnya saat ini sudah dibuat tiruannya), membongkar apartemen (yang membuat penghuninya harus lari menyelamatkan diri, bahkan ada kisah dramatis dimana seorang anak harus digendong turun melalui jendela agar bisa masuk wilayah Jerman Barat karena orang tuanya berada di sana), dan akhirnya membuat tembok pemisah dan penjagaan ketat secara berlapis-lapis untuk menahan agar tidak terjadi eksodus warga wilayah Jerman Timur ke wilayah Jerman Barat. Eh, saya kok jadi ingat film Goodbye Lenin yang diputar dalam JIFFEST tahun ini ya ?…J  

Beribu kisah (bahkan banyak yang sudah di-film-kan) tentang pemisahan sanak keluarga dan handai tolan atas dibangunnya Tembok Berlin terekam dalam Museum Tembok Berlin yang terdiri atas 6 lantai dengan masing-masing lantai menceritakan sejarah per dekade, antara tahun 50 – 90 an. Museum juga dilengkapi dengan diorama bersuara, film, dan toko souvenir yang berhubungan dengan Tembok Berlin dan Kota Berlin sendiri. Dekat museum, selain dibangun tiruan gereja yang sudah dirobohkan (tapi masih menyimpang beberapa loncengnya), juga terdapat monumen rekonsiliasi yang di-visual-kan dengan patung dua orang yang berpelukan. Bahkan di bagian lain kota Berlin sebagian tembok pemisah itu masih diabadikan dan dilengkapi sejarah kota Berlin yang digambarkan di bawahnya. Saya dan beberapa teman pun sempat berfoto di tepat di depan tembok dan berdiri diantara wilayah yang dulunya Jerman Timur dan Jerman Barat itu. Pada saat saya berkunjung kesana, ternyata masyarakat Jerman baru saja memperingati 14 tahun runtuhnya Tembok Berlin, dan banyak diantara mereka meletakkan karangan bunga sebagai tanda peringatan bagi banyak orang yang meninggal pada saat mencoba menerobos tembok itu. 


With Jamal and Aruna in front of Bradenburg Gate from East


Pihak Jerman Barat yang didukung Amerika Serikat dimasa Perang Dingin itu seakan juga tak mau kalah. Akhirnya mereka mendirikan pos penjagaan yang dikenal dengan Check Point Charlie yang dipakai sebagai tempat pemeriksaan orang-orang yang melintasi Tembok Berlin, khususnya yang akan pergi ke wilayah Jerman Barat dan tentu saja harus punya dokumen resmi.  

Setalah kami puas berkeliling Museum Tembok Berlin, kami akhirnya makan siang di Hotel Maritim Berlin, yang terletak dalam wilayah yang dulunya adalah Berlin Timur. Rasanya kami sudah tak sabar ingin segera berkeliling Berlin, mengagumi Bradenburg Gate, Berlin Dom, Berlin Kathedral, dll. Dengan hanya diberi waktu selama 30 menit (karena sejam lagi sebenarnya akan ada city tour bersama by bus), saya, Aruna, Jamal, dan Pablo (entah bagaimana dengan teman-teman yang lain) akhirnya sempat berjalan-jalan di sekitar Hotel Maritim, yang ternyata sangat dengan Bradenburg Gate serta jalan legendaris-nya Untern den Linden. Pablo-ah yang menjadi pemandu kami, dan tentu saja kami tidak melewatkan untuk berfoto sejenak..:) 


Bradenburg Gate dari wilayah Barat


Beberapa saat kemudian, sesuai dengan waktu yang telah disepakati, kami kembali ke Hotel Maritim dan siap memulai city tour yang dipandu oleh pemandu wisata, yang sayangnya tidak bisa berbahasa Inggris. Jadilah beberapa penerjemah kami bertambah tugas menerjemahkan menjadi Jerman – Inggris…:) Selama berkeliling kami hanya beberapa kali turun dari bus, jadi..tidak sempat berfoto ria, padahal kami khawatir beberapa saat lagi tidak cahaya matahari lagi..maklum lagi musim dingin. Tapi berkeliling Berlin memang asyik juga, kami jadi tahu museum, kathedral, gedung parlemen, komplek kedutaan (dalam sebuah kawasan atau distrik, karena sekarang Berlin sudah menjadi ibukota Jerman) kecuali Kedutaan Amerika Serikat, Canada, Inggris, dan Rusia yang terpisah dari komplek kedutaan lainnya. Pada saat kami melewati gedung parlemen dan Kantor Kedutaan Afrika Selatan, ternyata mereka sedang mengadakan open house lho… ternyata memang sudah tradisi untuk melakukan hal tersebut di beberapa tempat di Berlin, sehingga masyarakat bisa belajar tentang budaya masing-masing negara, langsung dari wilayah yang 'aman' !! Sayangnya, kami tidak melewatai Kantor Kedutaan Indonesia…:p  

Rute kami awalnya menyusuri wilayah Berlin Timur dengan kemegahan sisa-sisa Kerajaan Prusia (bahkan Bradenburg Gate memang masuk wilayah Berlin Timur lho…) yang dicoba dihidupkan lagi dengan membangun lagi gedung-gedung tua. Mereka mendirikan yayasan yang berkantor di Untern den Linden yang menarik semua warga untuk datang melihat maket yang nantinya akan dijadikan pedoman pembangunan lagi kawasan komplek Kerajaan Prusia, dimana nantinya masyarakat dapat berpartisipasi menyumbang dananya. Selain itu di kawasan ini terdapat pula museum, patung Raja Frederick, Humbolt University, dan tak ketinggalan adalah menara TV di Berlin Timur. Yang konon merupakan satu-satunya bangunan tertinggi yang ada di wilayah Berlin Timur saat pemisahan dengan Berlin Barat masih berlangsung. Pada saat itu, lantai menara paling atas adalah tempat penduduk Berlin Timur memandang ke-modern-an Berlin Barat, yang tentu saja harus mengantre untuk melihat kemajuan saudaranya di 'barat' sebagaimana kita naik ke Tugu Monas untuk melihat suasana Jakarta dari ketinggian. 


Untern den Linden

Begitulah, suasana antara bekas wilayah Berlin Timur memang sangat lain dengan Berlin Barat meski mereka telah bersatu sejak lebih dari sepuluh tahun. Di wilayah yang dulunya Berlin Barat, berbagai bangunan berarsitektur modern banyak bertebaran, termasuk kantor-kantor perusahaan besar (Mercedes, VW, Daimler Chrysler, Kodak, dsb), pusat perbelanjaan banyak bertebaran plus taman-taman hiburan bernuansa modern, bahkan kebun binatang yang cukup megah, walaupun tidak berarti mereka menghancurkan bangunan-bangunan kuno. 

Jadi, setelah puas berkeliling hampir 2 jam, kami akhirnya kembali ke Hotel Maritim, dan ternyata kami akhirnya diberi kesempatan lagi untuk berjalan-jalan menyusuri Berlin di waktu menjelang senja. Tentu saja hasil foto-foto saya tidak sebagus saat masih ada cahaya matahari..:( jam 5 sore itu rasanya sudah gelap sekali…. Tapi, dengan tetap bersemangat, saya dan Salma berjalan-jalan di komplek bangunan tua yang cukup menarik, sambil tentu saja berkunjung ke museum (untung masih buka), juga menyusuri jalan-jalan tua kota Berlin sambil membeli beberapa souvenir cantik !!  

Akhirnya pukul 18.00 waktu setempat kami berkumpul lagi di Hotel Maritim dan kami akhirnya kembali ke Magdeburg….sungguh perjalanan yang menyenangkan dan tentu saja tak terlupakan. Dalam hati saya berjanji, suatu hari saya akan kembali ke Berlin….. 



Posted by Early at 19:38

iwan
November 19, 2009   12:02 AM PST
 
terima aksih tulisannya sangat baik dan inspiratif.
mercusuar
October 25, 2009   08:25 PM PDT
 
guwa setahun dan akan 2 thn lagi di situ.
wah kok beda banget ya informasi kesannya. Waktulah yg membedakan. Makanya kalo berkunjung ke sebuah tempat kok hanya bentar pandai2lah menulis kesan hehe
Name
October 25, 2009   08:24 PM PDT
 
guwa setahun dan akan 2 tahn lagi.
wah kok beda banget ya kesannya hehe
gibran
October 9, 2009   12:28 AM PDT
 
nice experience..
i'm gonna go to deutchland someday..
hahaa
i wish..


gibran - cirebon.-jawa barat - indonesia..!!
Name
February 24, 2006   07:24 PM PST
 
lo sehari, gw 5 hari... :p

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments








Previous Entry Home Next Entry