|
Profile Consultant - Reading - Traveling - Jogging - Jazz - Classical - The Association For Advancement Of Small Business Surabaya - Indonesia Selalu ingin tahu sesuatu yang baru, teratur (tapi nggak streng banget), suka mengamati keindahan alam yang sederhana sekalipun (bersyukur..), cukup menikmati dan bahagia dengan hidupku..tapi, kadang-kadang naif juga (haha...)
The City of Perth
early_rahmawati@yahoo.co.uk Tagboard Calendar
My Friends Credits Layout: Marianne Picture: Stock.XCHNG |
Wednesday, May 26, 2004
Surat dari Sahabat (1 dari 3 Bagian) Persahabatan yang indah, kadang memang tidak selamanya berjalan seperti yang kita inginkan. Tapi membaca kembali Untuk Edwin, terima kasih telah memberiku pelajaran filsafat yang berharga. Untuk sahabat-sahabatku yang lain...semoga tulisan sahabatku ini akan membuat kita belajar tentang sesuatu yang yang mungkin tidak pernah kita bayangkan.
(T)obat: In principio erat Verbum et Verbum est apologia-pada mulanya adalah kalam dan kalam itu adalah apologia. Komunikasi [verbal] superlatif, untaian kalam-kalam yang dirangkum supaya punya makna, seringkali bermula dari apology, dari permintaan maaf. Seperti saat aku menengadahkan tangan ke hadapan Tuhan atau menundukkan kepala bertakzim di dalam bilik konfesi-berkomunikasi antar dimensi dengan maujud supra melalui struktur simbolis yang hidup ditengah aku, beau geste aku selalu bermula dari permintaan maaf. Dengan mengucap istighfar berkali-kali atau memohon ampunan dengan kusuk, aku mengkonstruksikan tubuh dan diri ke dalam logos dan aura apologia; gladi resik bagi fakultas mental dan spiritual untuk mendekatkan jarak antara dua entitas yang berbeda tataran ontologis dan eksistensialisnya. Doa membutuhkan maaf, permohonan menuntut 'pembersihan' sedang doa dan permohonan adalah komunikasi, serta 'pembersihan' dan maaf mempunyai relasi kausal; maka komunikasi memprasyaratkan kehadiran maaf. Dalam kontak sosial, kita juga memulai sesuatu dengan maaf. Ketika hendak mengritik atasan, kita memulainya dengan kata maaf; ketika berhadapan dengan pembesar, kita mengucap maaf; saat kita bertamu, kita mendahului kehadiran kita dengan ucapan maaf. Maaf menjadi sine qua non komunikasi; membutuhkannya seperti air bagi rasa haus: maaf jadi psikostimulan agar komunikasi tetap bisa menari. Dari apology, maaf, baru komunikasi bisa bergerak. Maaflah satu kalam yang mengadakan dan meniadakan, sehingga 'suatu' dan 'lain' bisa berada di ranah egalitarian-sama-sama mengada atau sama-sama meniada. Seorang menteri berada di pijakan yang sama dengan seorang petani saat sang penguasa mengucapkan kata 'maaf' di telinga rakyat jelata. Keduanya sama-sama mengada di hakikat mereka sebagai insan ciptaan Tuhan, mereka sama-sama meniadakan predikat-predikat yang menempel pada keduanya. Jarak pun menipis, kalau tidak mau dibilang melebur. Mungkin dalam Islam kita bisa melihat bahwa kekuatan maaf nyaris sama dengan kemampuan ibadah haji untuk 'memaksakan' persamaan dan penyeragaman dengan mengikis habis status duniawiyah-menyitir Ali Syariati, maaf adalah "hal yang mengembalikan hidup seseorang, hidup semua orang dan hal yang membunuh seseorang, membunuh semuanya", singkatnya, "all are one and one is all." Karena itu, mungkin, maaf merupakan hal yang berat: di kata, di gerak, dan di aksi. Ungkapan maaf sebagai bentuk pertarungan dari 'suatu' dan 'lain' mengimplikasikan format dan ritual penyerahan; dan sering kali 'suatu' tidak diapresiasi, sedang 'lain' biasanya mendapati posisi naratif dan wacana yang superior. Di banyak kitab suci, keutamaan forgiveness, memaafkan, lebih banyak ditekankan daripada meminta maaf, apologising. Kenapa? Mungkinkah karena apology mempunyai swamekanisme, sudah dipraanggapkan, sudah diekspektasikan dulu, dan lebih 'lemah' [dibanding memberi maaf]? Mungkin relasi kekuasaan bermain. Maaf ialah kalam yang mencabik, menidaksisakan ego-satu konstruksi ilusioner-ke dalam kefanaan efimeral agar tak ada ruang tersisa untuk 'ada' sehingga 'ketiadaan' bisa terisi 'ada'; ia perlu memadatkan ke-ada-annya. Maaf, gaya penetratif, menganihilasikan secara brutal arsitektur subjek sembari membentuk konstruksi ada-nya sendiri, tapi maaf jualah pembuka jalan bagi masuknya 'ada' baru, komunikasi, gaya yang juga masif penetratif. Komunikasi menekan, memaksa, menghujam bertubi-tubi wahana frigid yang sudah ada (terbentuk melalui maaf) melalui osmosis kontinual, membentuk 'ada', yang bila dibiarkan akan mengeras dan membutuhkan 'ketiadaan' untuk menyusun 'ada' kembali. Maaf: destruktif dan kreatif, homocidal dan suicidal. Seperti relasi budak-majikan Hegel, atau relasi sadar-bawahsadar Kojeve, relasi maaf dan komunikasi adalah relasi kekerasan. Sementara ia juga kalam dependen baik eskternal maupun internal, butuh suatu daya penohok, atmosfir pemaksa-pencipta suatu poin realisasi supaya maaf bisa mengada, sehingga ia punya daya meniadakan. Poin ini membutuhkan ketiadaan, kehampaan dalam diri seseorang yang mengada atau terada melalui kegetiran personal, kedeprivasian individual, kegalauan eksistensial, atau jarak-kejauhan punitif atau kedekatan penitentif. Seperti si Palomar dalam buku Palomar karya penulis beken Italo Calvino, seorang novelis yang piawai bermain dengan representasi kehampaaan i.e. yang-tak-bisa-terepresentasikan. Palomar mencoba menangkap hubungan maknawinya dengan dunia dan menjembatani jurang yang memisahkan ia dari realita dan dari kumpulan manusia. Usahanya ia ejawantahkan melalui pencarian keharmonisan, cara organis untuk berada diantara benda dan manusia. Walau ia tidak mendefinisikan keharmonisan itu, baginya, mungkin harmonis adalah keteraturan dalam konser musik. Suatu keharmonisan berskamur pada pergerakan menyeluruh yang mana bagian partikularnya mempertahankan posisi relatif mereka. Ia merindukan orde yang adil, satu tatanan menyeluruh yang melawan dan menegasikan perpecahan, penyayatan, dan keretakan. Ia tak menemukannya. Alih-alih ritme atau pola, ia cuma temukan kekacauan dan ketidakteraturan. Malah ia temukan fracture antara pengamat dan yang diamati dan bahwa tatanan dan pelanggaran hukum eksis di alam namun tidak bisa dicerna manusia, baik oleh bahasa maupun kemampuan deskriptif bahasa. Bahasa, supaya bisa berfungsi, membutuhkan deskriptan dalam format singularitas, dalam maujudnya dan bukan yang selain itu. Fungsi ini tak tercapai. Karena setiap Palomar melihat sesuatu ia "mentransformasikan segala ragam makanan kedalam dokumentasi sejarah peradaban dan item museum". Demikian saat ia melihat keju, " ia melihat jenis-jenis keju, beragam konsep keju, aneka makna keju, konteks keju, psikologi keju." Jauh dari mendekatkan diri, deskriptan mengalienasikan insan dari hal-hal dengan menegasikan singularitasnya. Bahasa merujuk pada dirinya sendiri dan sejarahnya sendiri; tercerailah diri Palomar dari dunia. Pemisahan yang menceraikannya dari dunia dan mendorongnya belajar memahami kematian ternyata adalah total: tiada yang bisa dicapai. Ia lalu sadar bahwa tujuannya tercapai: bila tiada apapun diluar penginderaan, maka tiada apapun yang mesti dipisahkan atau ditakuti. Dunia adalah hampa, seperti yang diinderai oleh Palomar, tapi kehampaan dunia ini bisa diakses secara menyeluruh oleh inderanya. Kehampaan ini demikian menyeluruh dan dialami dalam kesehariannya sehingga bagi Palomar yang tersisa tinggal bagaimana ia memaknai keadaan ini dan menyelediki pengorganisasiannya. Ia lalu menilik kembali hidupnya dan menemukan bahwa kehampaan hidupnya tersusun dalam satu sistem kehampaan. Sistem yang sangat tertutup, tak tertembus-sistem yang kehilangan maknanya, sistem yang 'hampa'. Karena kehampaan sistem inilah, tempat catatan hidupnya bernafas kehampaan, maka sistem ini meniupkan kehampaan dalam kehidupannya. Inikah nothingness? Atau cuma no-thing-ness? Tiada adalah satu Posted by early at 19:36 (1) comments Permalink
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||