Profile

WELCOME

Sign In

Consultant - Reading - Traveling - Jogging - Jazz - Classical - The Association For Advancement Of Small Business Surabaya - Indonesia

Selalu ingin tahu sesuatu yang baru, teratur (tapi nggak streng banget), suka mengamati keindahan alam yang sederhana sekalipun (bersyukur..), cukup menikmati dan bahagia dengan hidupku..tapi, kadang-kadang naif juga (haha...)

The City of Perth
Surat dari Sahabat 1, 2, 3
Cerita tentang Jerman 1, 2, 3
Jalanē ke Ranah Minang 1, 2

Early's Photos

early_rahmawati@yahoo.co.uk

Tagboard

   

Calendar

<< May 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


My Friends

The Secret 2 Success

Kampung Donat

50 Kota

Cimbuak

Agustin

TGO

OSS

PUPUK

Lulu'

Rini

Gita

Mita

Hadik

Alex

Pito

Fanabis

Endiks

Hedi

Bangsari

Indah

Kesya

GreenRoom

Anang

Vivink

Erny

Zumux

Bahtiar


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:
rss feed


Credits

Layout: Marianne
Picture: Stock.XCHNG
BLOGDRIVE
TEMPLATES
Blogdrive
Thursday, May 27, 2004
Surat dari Sahabat (Ke-2 dari 3 Bagian)


Lalu dari mana ketiadaan ini muncul? Heidegger menempatkan pemahaman tentang ketiadaan ini pada 'keresahan', yang sifatnya personal, dan merupakan pengalaman pribadi. Keresahan, dalam Sein und Zeit, merupakan prasyarat mencapai pemahaman autentik eksistensi sebagai wujud-di-dunia. Bila semua tak bermakna lagi, seluruh aktivitas Dasein berhenti, dan dunia menjadi visibel sebagai struktur-makna yang cuma berkorelasi dengan makna eksistensi. Pemasrahan pada keresahan berarti tak satu hal pun di dunia ini bermakna lagi. Ini cuma bisa terjadi dalam format khusus ketidakberartian akut terlahir dari keresahan. Dasein lalu tersedot ke dalam gaya hidup kolektif, ia berpikir dan berkelakuan seperti 'umumnya orang'. Ia teralienasi karena kondisi kehidupan mengalami krisis. Alienasi ini terjadi karena Dasein 'jatuh'-berpaling dari keberadaannya sendiri, dari  eksistensi sebagai struktur makna, ia jadi maujud yang miskin independensi. Ia mengambang di dunia dan pada hal-hal disekitarnya, supaya ia tak harus menghadapi dirinya sendiri. Kini ia hanyalah seorang normopath-hidup cuma di dunia 'luar', miskin subjektivitas, nilai-nilai dan perasaan, ia menderita 'unheimlich'-tidak nyaman atau tidak betah. Setelah ia jatuh dari "potensi original untuk menjadi maujud" ke "dunia" dan tidak betah didalamnya, ia merindukan "kembali ke asal." Dalam situasi 'eksistensial-ontologikal' ini, ia homesick, ia bernostalgia-(nostos, pulang kampung; altos, derita).

 

Sahabat, aku bernostalgia, aku ingin nostos, aku dalam altos. Bagaimana aku mesti nostos? Cukupkah dengan 'maaf'?

 

'Meminta maaf', idiom yang kita gunakan untuk proses kadang tak terbatas waktu, menghujam, menyobek, menyayat, dan memaksa (kompulsif) ini. Aku memohon seseorang untuk memberikan maafnya, untuk forgive. aku meminta. Maaf dan ampun berasal dari kata yang sama: 'afwu, bebas. Maaf dan ampun, seperti di kamus, berarti terbebas dari tuntutan karena kesalahan dan kekeliruan. Saat aku meminta maaf dan meminta ampun, aku meminta dibebaskan dari tuntutan karena kesalahan dan kekeliruan aku. meminta.

 

Aku dihantui perasaan bersalah, ditenggelamkan oleh dosa, digulanakan oleh nista; lalu aku takut dengan siksaan, dengan ancaman, dengan hukuman, dengan azab Tuhan atau rekan. Dari rasa takut ini aku ingin melarikan diri, ingin dibebaskan, bebas dari ketakutan, bebas dari tuntutan-tuntutan internal atau eksternal yang menakutkan. Aku ingin menemukan sinar terang di ujung terowongan gelap gulita. Kemudian aku mengumpulkan seluruh tenaga yang ada, menghimpun kekuatan yang tersisa, membentuk kembali keping-keping menjadi satu raga, menggerakkannya ke dalam satu ritual berat alang kepalang dan memecahkan kebisuan dengan kata 'maaf'. Aku sudah melakukan satu pengorbanan besar, lebih besar daripada mengorbankan apapun karena yang dikorbankan adalah diri sendiri-seperti kisah Nabi Ibrahim dan Ismail bagi kaum sufi, bukan Ismail yang disembelih tapi Ibrahimlah yang disembelih, karena diri Ibrahim yang dikorbankan. Bila aku meminta maaf apakah aku memberikan pengorbanan besar? Mungkin ini memalingkan aku dari satu realita, bahwa, seperti maxim La Rouchefoucauld, "sering kebaikan kita adalah keburukan terselebung"; aku meminta maaf karena aku ingin bebas, aku memohon ampun karena ingin lari dari ancaman. Aku masih terperangkap dalam rumah ego, kista diri, aku tidak mendekati, aku menyuarakan. aku.

 

Apakah surat ini cuma apologia? Mungkin apologia bukanlah kata yang tepat. Apologia adalah judul yang dipakai Plato dalam dialognya untuk merekam saat-saat akhir kehidupan gurunya, Sokrates, sebelum ia menenggak hemlok-kisah yang mendekonstruksikan mitos kepahlawanan Yunani Kuno dari Homerik delon ke Sokratik daimonion, membawa Athena dari kekaisaran badan ke kekaisaran pemikiran, merubah ide kematian dari jasadi ke ideologi. Apologia hanyalah pernyataan formal untuk mempertahankan pendapat atau ide seseorang, lagi ada 'aku' disitu. Apology pun tak bisa membantu karena selain ia bentuk pembelaan formal, juga ungkapan penyesalan karena kesalahan. Menyesal? Menyesal adalah refleksi pribadi, untuk kepentingan pribadi, demi kepuasan pribadi. Dostoevsky beranggapan penyesalan sebagai penyakit, racun ketidakpuasan nafsu yang menggerogoti ke dalam-sebagai hal tragis swadestruktif dan tak tersembuhkan. Menyesal merupakan pencarian sesuatu yang hilang, layaknya bercermin dan mematut-matut diri; menyesal masih mempunyai remah-remah kista. Apology-dari apologeisthai, artinya berbicara untuk membela diri-tidak cukup bagi kita karena 'aku' belum beranjak untuk bergerak menuju 'kamu.' Cukupkah dengan kalimat "I am sorry"? Bagaimana bisa? Sorry-dari Anglosaxon sarig, terluka; atau sorg, duka dari kehilangan atau kekecewaan-masih membatasi diri pada 'diri', masih terkungkung dalam kepompong yang bernama 'ego'. Sama seperti apology, sorry sekadar ekspresi pembentuk garis pembatas. Maaf menciptakan arsitektur pembatas antara 'aku' dan 'kamu', atau 'suatu' dan 'lain'.

 

Dengan menggunakan definisi Deleuze-Guattari, maaf adalah sistem ritual schizophrenis. Karena perhatiannya pada individu dan diri, maaf harus menundukkan arsitektur dan struktur sosial-segala yang bukan 'diri'. Saat yang sama, karena segala 'non-diri' dibutuhkan untuk mengisi ruang supaya maaf bisa berkembang dan diri bisa merealisasikan manifestasinya, maaf memerlukan dan membentuk arsitektur dan struktur sosial baru. Maaf, seperti lukisan Van Gogh, menawarkan di satu sisi keindahan warna yang cantik dan memabukkan namun di sisi lain menyembunyikan 'warna hidup' yang kaotik dan menyeramkan.

 

Setiap insan memiliki semesta pribadi pikiran dan perasaan simbolis. Melalui bahasa (lisan, tulisan, badan, estetika, dan semua bahasa seni), kita memraduga penerjemahan pikiran dan perasaan dari satu insan ke yang lain. Sebagai pengirim pesan (addresser) kita pradugakan penerjemahannya bisa diterima, bisa dimengerti. Sebagai penerima pesan (addressee) kita pradugakan kita menerima dan mengerti apa yang dimaui pengirim. Masalahnya, kita tidak akan pernah 'tahu' kesadaran yang lain. Kesenjangan dan distorsi terjadi dalam komunikasi antara addresser-addressee.

 

Bagi Kant dua subjek ini memegang peranan penting. Subjek, menurutnya, adalah aktif dan juga pasif. Melalui fakultas sensasinya ia menerima impresi-impresi partikular. Ia beraksi sebagai addressee. Namun, subjek pun aktif saat ia mengaplikasikan format-format intuisi (contohnya, ruang dan waktu) pada sensasi. Disinilah fungsi ostensif mensituasikan impresi tersebut ke dalam ruang dan waktu dan bersifat relatif bagi subjek. Maka, menurut Lyotard, ada differend (potensi konflik, beda) antara sensasi dan intuisi.

 

Disinilah Kant berpisah dengan Lyotard. Menurut yang terakhir, presentasi (dalam bahasa Kantian dikenal dengan darstellung)-permintaan maaf dalam bahasan kita, tidak sekedar ostensi tapi yang menjembatani intuisi dengan konsepsi. Kant yang antromorfis mewajibkan kehadiran aktor sehingga ia bisa mendekati addressee lain dan membantu dirinya sendiri meraih swaidentitas. Neo-Kantianis seperti Schleiermacher menegaskan kembali hal ini dalam interpretasinya sendiri. Darstellung baginya adalah manifestasi individualitas, umumnya linguistik dan khususnya tekstual, yang terkandung dalam setiap aksi ekspresi. Presentasi (darstellung) karenanya merupakan artikulasi absolut individual. Jadi, darstellung adalah "penghubungan, penggabungan, pengaturan berdekatan, perbandingan antara aturan mapan atau aturan tak diketahui dengan intuisi." Sumber darstellung, dan permintaan maaf, tak lain adalah si subjek.

 

Seperti seni visual, presentasi mendapati maknanya dari pemirsa, pembaca, atau addressee. Pekerja-pekerja seni ini kehilangan kontrol atas karya mereka karena hanya addressee yang bisa memberikan reaksi. Dalam hal ini, eksistensi subjek, addresser, hidup atau mati tidak mempunyai relevansi dengan pengalaman aestetis. Permintaan maaf menjadi lebih penting daripada orang yang meminta maaf itu sendiri, karena si peminta sudah kehilangan kontrol ata s 'minta maaf' itu sendiri. Pemberi maaf mendapat hak satu-satunya untuk memberikan reaksi-eksistensi peminta, hidup atau mati, tak lagi penting. Tak salah bila Lyotard akhirnya menarik kesimpulan bahwa subjek tidak bisa dipresentasi, cuma bisa direpresentasi. Dan Kantian darstellung berubah makna dari presentasi menjadi penyituasian. Ada represi presentasi oleh representasi/situasi. Darstellung, ujar Walter Benjamin, tak lebih dari tugas delineasi (zeichnen)-membuat garis.

 

Addresser-addressee tak lagi bicara dengan bahasa universal. Saat dua pihak berbicara dengan dua bahasa heterogen yang amat berbeda, maka differend pun terjadi. Differend menjelma antara dua pihak bila aturan konflik dibuat melalui idiom salah satu pihak sementara yang tertindas karena satu pihak tidak tertkamui (signified) dalam idiom ini. Realitas satu pihak diistemewakan, hingga bahkan yang benar pun menjadi mangsa. Yang mengajukan gugatan didengar, sedang tertuduh, dan bisa jaid orang yang sama, direduksi ke kebisuan. Keberadaannya dilumatkan karena ia tak menemukan wahana ekspresi atau karena ia diluar perlindungan addresser atau addressee. Ketidakseimbangan ini, menurut Lyotard dalam Differend, melahirkan hegemoni.



Posted by early at 19:38
Comment



Next Page