|
Profile Consultant - Reading - Traveling - Jogging - Jazz - Classical - The Association For Advancement Of Small Business Surabaya - Indonesia Selalu ingin tahu sesuatu yang baru, teratur (tapi nggak streng banget), suka mengamati keindahan alam yang sederhana sekalipun (bersyukur..), cukup menikmati dan bahagia dengan hidupku..tapi, kadang-kadang naif juga (haha...)
The City of Perth
early_rahmawati@yahoo.co.uk Tagboard Calendar
My Friends Credits Layout: Marianne Picture: Stock.XCHNG |
Thursday, May 27, 2004
Surat dari Sahabat (Ke-2 dari 3 Bagian) Lalu dari mana ketiadaan ini muncul? Heidegger menempatkan pemahaman tentang ketiadaan ini pada 'keresahan', yang sifatnya personal, dan merupakan pengalaman pribadi. Keresahan, dalam Sein und Zeit, merupakan prasyarat mencapai pemahaman autentik eksistensi sebagai wujud-di-dunia. Bila semua tak bermakna lagi, seluruh aktivitas Dasein berhenti, dan dunia menjadi visibel sebagai struktur-makna yang cuma berkorelasi dengan makna eksistensi. Pemasrahan pada keresahan berarti tak satu hal pun di dunia ini bermakna lagi. Ini cuma bisa terjadi dalam format khusus ketidakberartian akut terlahir dari keresahan. Dasein lalu tersedot ke dalam Sahabat, aku bernostalgia, aku ingin nostos, aku dalam altos. Bagaimana aku mesti nostos? Cukupkah dengan 'maaf'? 'Meminta maaf', idiom yang kita gunakan untuk proses kadang tak terbatas waktu, menghujam, menyobek, menyayat, dan memaksa (kompulsif) ini. Aku memohon seseorang untuk memberikan maafnya, untuk forgive. aku meminta. Maaf dan ampun berasal dari kata yang sama: 'afwu, bebas. Maaf dan ampun, seperti di kamus, berarti terbebas dari tuntutan karena kesalahan dan kekeliruan. Saat aku meminta maaf dan meminta ampun, aku meminta dibebaskan dari tuntutan karena kesalahan dan kekeliruan aku. meminta. Aku dihantui perasaan bersalah, ditenggelamkan oleh dosa, digulanakan oleh nista; lalu aku takut dengan siksaan, dengan ancaman, dengan hukuman, dengan azab Tuhan atau rekan. Dari rasa takut ini aku ingin melarikan diri, ingin dibebaskan, bebas dari ketakutan, bebas dari tuntutan-tuntutan internal atau eksternal yang menakutkan. Aku ingin menemukan sinar terang di ujung terowongan gelap gulita. Kemudian aku mengumpulkan seluruh tenaga yang ada, menghimpun kekuatan yang tersisa, membentuk kembali keping-keping menjadi satu raga, menggerakkannya ke dalam satu ritual berat alang kepalang dan memecahkan kebisuan dengan kata 'maaf'. Aku sudah melakukan satu pengorbanan besar, lebih besar daripada mengorbankan apapun karena yang dikorbankan adalah diri sendiri-seperti kisah Nabi Ibrahim dan Ismail bagi kaum sufi, bukan Ismail yang disembelih tapi Ibrahimlah yang disembelih, karena diri Ibrahim yang dikorbankan. Bila aku meminta maaf apakah aku memberikan pengorbanan besar? Mungkin ini memalingkan aku dari satu realita, bahwa, seperti maxim La Rouchefoucauld, "sering kebaikan kita adalah keburukan terselebung"; aku meminta maaf karena aku ingin bebas, aku memohon ampun karena ingin lari dari ancaman. Aku masih terperangkap dalam rumah ego, kista diri, aku tidak mendekati, aku menyuarakan. aku. Apakah Dengan menggunakan definisi Deleuze-Guattari, maaf adalah sistem ritual schizophrenis. Karena perhatiannya pada individu dan diri, maaf harus menundukkan arsitektur dan struktur sosial-segala yang bukan 'diri'. Saat yang sama, karena segala 'non-diri' dibutuhkan untuk mengisi ruang supaya maaf bisa berkembang dan diri bisa merealisasikan manifestasinya, maaf memerlukan dan membentuk arsitektur dan struktur sosial baru. Maaf, seperti lukisan Van Gogh, menawarkan di satu sisi keindahan warna yang cantik dan memabukkan namun di sisi lain menyembunyikan 'warna hidup' yang kaotik dan menyeramkan. Setiap insan memiliki semesta pribadi pikiran dan perasaan simbolis. Melalui bahasa (lisan, tulisan, badan, estetika, dan semua bahasa seni), kita memraduga penerjemahan pikiran dan perasaan dari satu insan ke yang lain. Sebagai pengirim pesan (addresser) kita pradugakan penerjemahannya bisa diterima, bisa dimengerti. Sebagai penerima pesan (addressee) kita pradugakan kita menerima dan mengerti apa yang dimaui pengirim. Masalahnya, kita tidak akan pernah 'tahu' kesadaran yang lain. Kesenjangan dan distorsi terjadi dalam komunikasi antara addresser-addressee. Bagi Kant dua subjek ini memegang peranan penting. Subjek, menurutnya, adalah aktif dan juga pasif. Melalui fakultas sensasinya ia menerima impresi-impresi partikular. Ia beraksi sebagai addressee. Namun, subjek pun aktif saat ia mengaplikasikan format-format intuisi (contohnya, ruang dan waktu) pada sensasi. Disinilah fungsi ostensif mensituasikan impresi tersebut ke dalam ruang dan waktu dan bersifat relatif bagi subjek. Maka, menurut Lyotard, ada differend (potensi konflik, beda) antara sensasi dan intuisi. Disinilah Kant berpisah dengan Lyotard. Menurut yang terakhir, presentasi (dalam bahasa Kantian dikenal dengan darstellung)-permintaan maaf dalam bahasan kita, tidak sekedar ostensi tapi yang menjembatani intuisi dengan konsepsi. Kant yang antromorfis mewajibkan kehadiran aktor sehingga ia bisa mendekati addressee lain dan membantu dirinya sendiri meraih swaidentitas. Neo-Kantianis seperti Schleiermacher menegaskan kembali hal ini dalam interpretasinya sendiri. Darstellung baginya adalah manifestasi individualitas, umumnya linguistik dan khususnya tekstual, yang terkandung dalam setiap aksi ekspresi. Presentasi (darstellung) karenanya merupakan artikulasi absolut individual. Jadi, darstellung adalah "penghubungan, penggabungan, pengaturan berdekatan, perbandingan antara aturan mapan atau aturan tak diketahui dengan intuisi." Sumber darstellung, dan permintaan maaf, tak lain adalah si subjek. Seperti seni visual, presentasi mendapati maknanya dari pemirsa, pembaca, atau addressee. Pekerja-pekerja seni ini kehilangan kontrol atas karya mereka karena hanya addressee yang bisa memberikan reaksi. Dalam hal ini, eksistensi subjek, addresser, hidup atau mati tidak mempunyai relevansi dengan pengalaman aestetis. Permintaan maaf menjadi lebih penting daripada orang yang meminta maaf itu sendiri, karena si peminta sudah kehilangan kontrol ata s 'minta maaf' itu sendiri. Pemberi maaf mendapat hak satu-satunya untuk memberikan reaksi-eksistensi peminta, hidup atau mati, tak lagi penting. Tak salah bila Lyotard akhirnya menarik kesimpulan bahwa subjek tidak bisa dipresentasi, cuma bisa direpresentasi. Dan Kantian darstellung berubah makna dari presentasi menjadi penyituasian. Addresser-addressee tak lagi bicara dengan bahasa universal. Saat dua pihak berbicara dengan dua bahasa heterogen yang amat berbeda, maka differend pun terjadi. Differend menjelma antara dua pihak bila aturan konflik dibuat melalui idiom salah satu pihak sementara yang tertindas karena satu pihak tidak tertkamui (signified) dalam idiom ini. Realitas satu pihak diistemewakan, hingga bahkan yang benar pun menjadi mangsa. Yang mengajukan gugatan didengar, sedang tertuduh, dan bisa jaid orang yang sama, direduksi ke kebisuan. Keberadaannya dilumatkan karena ia tak menemukan wahana ekspresi atau karena ia diluar perlindungan addresser atau addressee. Ketidakseimbangan ini, menurut Lyotard dalam Differend, melahirkan hegemoni. Posted by early at 19:38 Comment Permalink
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||