Profile

WELCOME

Sign In

Consultant - Reading - Traveling - Jogging - Jazz - Classical - The Association For Advancement Of Small Business Surabaya - Indonesia

Selalu ingin tahu sesuatu yang baru, teratur (tapi nggak streng banget), suka mengamati keindahan alam yang sederhana sekalipun (bersyukur..), cukup menikmati dan bahagia dengan hidupku..tapi, kadang-kadang naif juga (haha...)

The City of Perth
Surat dari Sahabat 1, 2, 3
Cerita tentang Jerman 1, 2, 3
Jalanē ke Ranah Minang 1, 2

Early's Photos

early_rahmawati@yahoo.co.uk

Tagboard

   

Calendar

<< May 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


My Friends

The Secret 2 Success

Kampung Donat

50 Kota

Cimbuak

Agustin

TGO

OSS

PUPUK

Lulu'

Rini

Gita

Mita

Hadik

Alex

Pito

Fanabis

Endiks

Hedi

Bangsari

Indah

Kesya

GreenRoom

Anang

Vivink

Erny

Zumux

Bahtiar


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:
rss feed


Credits

Layout: Marianne
Picture: Stock.XCHNG
BLOGDRIVE
TEMPLATES
Blogdrive
Friday, May 28, 2004
Surat dari Sahabat (Terakhir dari 3 Bagian)


Ujung-ujungnya, maaf ternyata ekstensi dari kepentingan pribadi, upaya menyelamatkan diri sendiri, anti-altruisme, narsistik-egois, dan hegemonis. Maaf adalah kebohongan, keingkaran, kemunafikan, kemusyrikan.

 

Diantara maaf ada batas antara 'suatu' dan 'lain'. Konsep 'lain' atau 'Lain' merupakan antitesis terhadap penindasan monolog dalam paradigma budaya dan saintifik, resistensi terhadap pemujaan diri sendiri-berfokus lebih pada protagonis sebagai satu-satunya lakon dalam pentas. Dengan konsep ini, Bakhtin bisa merayakan alteritas (lain-an) melalui teori dialog, Spivak bisa membebaskan kaum sub-altern berbicara. Zaman ini, menurut Baudrillard, adalah era pemroduksian 'lain'. Modernitas yang menempatkan 'lain' sebagai objek produksi dan bukan lagi 'objek perasaan', perlu memroduksinya secara terus menerus. Mungkin saking radikalnya atau ketidakbisaannya untuk direduksi, ia menjadi berbahaya atau tidak mengenakkan. Atau karena lain-an dan relasi dualis perlahan menghilang dengan kemunculan nilai-nilai individu dan keruntuhan nilai-nilai simbolis. Singkatnya, ungkap Baudrillard, lain-an jadi langka dan karena kita tidak bisa mengalami lain-an sebagai takdir, kita mesti menciptakan 'lain' sebagai pembeda.

 

Antara 'suatu' dan 'lain' ada suatu ruang, antara 'aku' dan 'kamu' ada jarak. Ruang dan jarak ini mungkin yang dimaksud oleh Plato dengan 'khora'. Levinas, dan juga Buber, memberikan kosa kata baru dalam hal ruang ini, yakni diskusi mereka tentang 'proksimasi', tentang 'pertemuan' dan 'ruang-antara'. Levinas mendeskripsikan suatu proses yang mendorong penciptaan ruang/jarak antara 'aku' dan 'lain'. Ruang, yang disebut Levinas sebagai 'Il y'a' merupakan tempat proksimasi, tempat berdekatan: berhadap-hadapan. Relasi ini berbeda dengan relasi subjek-objek dimana objek dihubungkan/dikerjakan/dikenalkan atau ditkamui sebagai eksterioritas. Menurut Buber, relasi Aku-ia merupakan relasi subjek dengan objek, dan seringkali merupakan relasi yang menggunakan semacam ranah mental atau fisikal. Relasi Aku-Engkau mengubah kedua terma ('Aku' bukan lagi subjek simpel) dan relasi keduanya menjadi transenden.

 

'Pertemuan', istilah yang diambil Levinas dari Buber, adalah ruang 'proksimasi', jarak, dan pendekatan pada saat yang sama-ruang ini semacam ruang yang timbul dari interaksi dua wujud, berpotensi untuk mendekat. Ruang ini bukan lagi ruang pengenalan atau ruang pemetaan-ini bukan tentang bagaimana aku dan kamu akan berhubungan-ruang ini menjadi ruang yang memberikan potensi, yang bergantung pada gap, proksimitas, seperti gaya magnetis yang mengada dengan sendirinya melalui gap antara dua kutub berlawanan: ruang yang eksis cuma selama potensi itu ada, yang ada bila kedua kutub tersebut dalam proksimitas satu sama lain. Ruang itu ada 'disana', namun sepertinya ruang ini adalah ruang aporetis: ruang dimana selalu ada jarak dan tak bisa diisi, tak bisa ditempati. Ruang aporetis adalah ruang dan non-ruang: kontraksi dan pembuka. Ruang ini tetap memberikan kesempatan untuk proksimitas dan 'bertemu' selama potensi itu terus berinteraksi.

 

Mestikah aku perlu melakukan, yang disebut Baudrillard, 'bedah plastik' [la chirurgie esthetique], pembedahan keseluruhan, muka dan badan untuk 'bertemu' dan membentuk 'proksimitas'?

 

'Je est un autre (I is an other),' ucap Rimbaud dalam salah satu puisinya. Sebagian menafsirkan ini sebagai usaha pengarang untuk memanifestasikan diri pada khalayak-semacam realisme Marxian. Lacan menginterpretasikan ini merupakan upaya swaidentifikasi Rimbaud dengan 'lain', dan sebaliknya, penciptaan suatu 'mirror image'-yang jauh lebih dekat daripada alter ego: definisi yang satu tidak bisa eksis tanpa definisi 'lain', penekanan kembali pada performasi. I is an other menegaskan bahwa aku adalah kamu dan kamu adalah aku: seperti Tuhan bicara dengan mahkluknya sebagai Imago Dei, sebagaimana Ibnu Arabi dan al-Hallaj bicara tentang wahdat al-wujud-wujud satu, secara definitif, berhubungan erat dengan wujud lain, dan demikian sebaliknya.

 

Disini mendekonstruksikan diri sendiri menjadi perlu-saat hal itu dilakukan, timbullah imagi bahwa 'diri' bukanlah sebagai wadah berisi pemikiran-pemikiran subjektif. 'Diri' didekonstruksikan dengan dua cara. Pertama, mendekonstruksi diri sebagai pengarang kita bisa catat bahwa diri tidak sepenuhnya identitas teralienasi. Ia tidak ciptakan pikiran dan kata-katanya ex nihilo. Ia menyuarakan orang lain. Pikiran kita pun menyuarakan pikiran orang, pikiran ini tak bisa terlepas dari interaksi ini. Kedua, pikiran tidak hanya menggaungkan pikiran orang lain, tapi kadang pikiran ini diorganisasikan sedemikian rupa sehingga pikiran orang ini menjadi pikiran sendiri. Proses ini berlanjut sehingga tidak jelas lagi siapa sumbernya.

 

Dari proses dekonstruksi ini terjadi pengidentifikasian diri dengan 'lain', 'aku' dengan 'kamu'. Mungkin ini yang Kristeva bilang mimesis, bukan peniruan, tapi sebagai usaha penyatuan 'satu' dan 'lain'. Inilah proksimitas, inilah 'pertemuan' bagi Levinas dan Ibnu Arabi-saat jarak dan ruang sudah tergeser, yang ada hanya gabungan. Itulah maka aku ber(t)obat padamu.

 

Tobat adalah obat: pencipta proksimitas, pembentuk 'pertemuan', pelebur ego, pengidentifikasi diri dengan 'lain', pengisi tempat tak terisi, pengada yang tak-ada. Karena tobat, dari tawbah, berarti berpaling atau kembali dari satu titik ke titik lain. Tobat membuat orang berpaling dari segala sesuatu yang selain yang-dituju kepada cuma yang-dituju semata, ia tak mengindahkan latar belakang diri, atau keadaan diri, atau keadaan di sekitar diri. Ia tak kenal kemunafikan, kebodohan, keingkaran, keacuhan. Tobat tak kenal pamrih. Ia tak kenal 'diri'!

 

Tobat mengembalikan orang pada asalnya, Je est un autre-asalku adalah kamu, aku adalah kamu. Aku kembali padamu, aku ruju' (ruju' juga berarti kembali), aku kembali, kamu kembali. [15 Mei 2000]

 

salam,

Edwin Arifin



Posted by early at 19:39
Comment



Next Page